Kamis, 28 Juli 2016

Human Capital and Economic Growth in ASEAN Countries: Panel Data Approach

HUMAN CAPITAL DAN PERTUMBUHAN EKONOMI DI NEGARA ASEAN: Pendekatan Panel Data
Irman Ramdani, SE1                          Garan Paruta2

      Departemen Ilmu Ekonomi IPB


PENDAHULUAN

Latar Belakang
Pada tahun 1997 hingga 1998 beberapa Negara di Asia mengalami krisis moneter yang mengakibatkan banyak perubahan yang terjadi dalam negaranya. Hal tersebut juga dirasakan oleh negara-negara yang terkumpul dalam ASEAN yang sedang banyak melakukan peningkatan di setiap negaranya. Indonesia, Thailand, Filipina, Malaysia, Singapura, dan Laos terkena dampak dari krisis moneter ini dengan dampak yang relatif berbeda untuk setiap negara. Sudah menjadi suatu kepastian bahwa krisis yang terjadi memengaruhi perekonomian di beberapa Negara ASEAN. Salah satu hal yang terpengaruh oleh krisis moneter yang terjadi adalah pertumbuhan ekonomi dan human capital di ASEAN.
Banyak teori yang menjelaskan keterkaitan antara pertumbuhan ekonomi di suatu negara dengan human capital di negara tersebut. Ada dan Acaraglu (2014) meneliti tentang human capital and economic growth di Middle East North Africa (MENA). Human capital pada penelitian tersebut dapat dilihat menggunakan dua proxy yakni kesehatan dan pendidikan. Pendidikan berhubungan terhadap kualitas dari human capital sedangkan kesehatan secara langsung berpengaruh terhadap produktivitas dari human capital. Selain itu kesehatan juga mempengaruhi tingkat pendidikan seseorang. Untuk negara-negara maju tingkat human capital sudah tinggi yang diindikasikan dengan rendahnya tingkat kematian bayi dan tingginya angka partisipasi pendidikannya. Sedangkan untuk negara berkembang, tingkat human capital masih relatif rendah.
Berdasarkan hal tersebut, paper ini berusaha menganalisis pengaruh kesehatan dan pendidikan yang merupakan bagian dari human capital terhadap pertumbuhan ekonomi di negara-negara ASEAN pasca terjadinya krisis moneter tahun 1997-1998. Dengan analisis tersebut diharapkan mampu menjelaskan pengaruh human capital terhadap pertumbuhan perekonomian yang diukur dengan PDB per kapita di masing-masing negara ASEAN yang menjadi objek penelitian.
 Perumusan Masalah
Dampak krisis moneter tahun 1997 yang terjadi pada negara-negara di Asia mengakibatkan terjadi beberapa perubahan baik secara ekonomi maupun sosial. Indonesia merupakan salah satu negara yang mendapat dampak yang besar dari krisis tersebut disamping Thailand dan Korea Selatan. Selain itu dampak yang dihasilkan dari krisis tersebut juga dirasakan pada tahun tahun berikutnya yang memengaruhi perekonomian di negara-negara ASEAN yang saat tersebut sedang melakukan peningkatan kualitas di beberapa sektor yang salah satunya adalah peningkatan human capital di negara-negara ASEAN.
Berdasarkan uraian sebelumnya, penulis membagi tulisan ini ke dalam beberapa rumusan masalah yakni :
1.      Bagaimana dampak human capital terhadap perekonomian di Negara ASEAN pada tahun 1999 hingga 2004 ?
2.      Negara manakah yang memiliki pengaruh human capital terhadap perekonomian terbesar di Negara ASEAN pada tahun 1999 hingga 2004 ?
 Tujuan Penulisan
Dalam tulisan ini terdapat beberapa tujuan yang ingin dicapai, diantaranya :
1.      Mengetahui dampak human capital terhadap perekonomian di Negara ASEAN pada tahun 1999 hingga 2004.
2.      Mengetahui negara yang memiliki pengaruh human capital terhadap perekonomian terbesar di Negara ASEAN pada tahun 1999 hingga 2004.
 Penelitian Terdahulu
Penelitian sebelumnya menunjukan terdapat hubungan positif antara pengeluaran pemerintah untuk pendidikan dengan pertumbuhan. Namun disisi lain diketahui bahwa terdapat hubungan lemah antara pengeluaran pemerintah dengan pertumbuhan ekonomi (Cullison dalam Ada dan Acaraglu, 2014). Studi lain ketika variabel pendidikan menggunakan tingkat pendaftaran sekolah dan pengeluaran pemerintah untuk pendidikan menunjukan tidak adanya hubungan yang signifikan antara pendidikan dengan pertumbuhan ekonomi (Kelly’s dalam Ada dan Acaroglu, 2014). Penelitian lain yang bertujuan untuk melihat hubungan antara human capital dan pertumbuhan ekonomi di suatu negara menunjukan bahwa tingkat kesehatan berdampak pada meningkatnya jumlah waktu kerja tenaga kerja. Beberapa penelitian tersebut mengindikasikan terdapat hubungan antara human capital dan pertumbuhan ekonomi, sehingga perlu ada penelitian lebih lanjut untuk menambah penelitian terkait hubungan tersebut.
Frees dalam Akbar, 2011 dalam penelitiannya mendapati adanya heteroskedastisitas, kovariat random dan fixed effect, pencilan dalam datanya. Hal tersebut memberikan kesempatan untuk memberikan kesempatan untuk meningkatkan spesifikasi model menggunakan diagnostik grafis dan numerik dari software statistik standar. Sedangkan menurut Greene dalam Akbar, 2011 menyebutkan bahwa Fixed Effect Model (FEM) dan Random Effect Model (REM) perlu dilakukan karena terdapat kesulitan komputasi dan inkonsistensi yang disebabkan oleh waktu kecil (T (i)). FEM  seharusnya digunakan untuk perhitungan dalam lebih dari dua puluh kerangka pemodelan yang berbeda (regresi linear, pilihan biner, pilihan multinomial, menghitung data, log model linear , terbatas variabel dependen, model hidup, stochastic frontier, dll). Sehingga FEM cukup layak bahkan dalam panel dengan sejumlah besar kelompok

METODOLOGI PENELITIAN
Jenis dan Sumber Data
Jenis data dalam penelitian ini adalah data panel sebanyak 6 negara di kawasan ASEAN selama periode 1990-2012. Data tersebut merupakan data sekunder yang  diperoleh dari laporan tahunan masing-masing negara di kawasan ASEAN di World Development Indicators (WDI). Data yang tersedia adalah data 6 negara ASEAN. Negara tersebut adalah Indonesia, Malaysia, Kamboja, Laos, Myanmar dan Filipina. Bank Dunia mencatat ada 10 negara di kawasan ASEAN. Salah satu alasan memilih 6 dari 10 negara ASEAN adalah ketersediaan akses data.  Data tersebut digunakan untuk mengukur kaitan antara tingkat pertumbuhan ekonomi dan modal manusia. Sedangkan untuk studi pustaka penulis mengumpulkan berbagai jurnal terkait yang relevan tentang penelitian ini.
Dalam mengukur kaitan tingkat pertumbuhan ekonomi dan modal manusia, pendekatan dalam menganalisis variabel modal manusia dibagi dalam dua aspek yakni tingkat pendidikan dan kesehatan. Pendekatan  ini bertujuan untuk mempersempit fokus pembahasan penelitian, tetapi menawarkan kesempatan untuk membandingkan kontribusi antara tingkat pendidikan dan tingkat kesehatan untuk pertumbuhan ekonomi.
Penelitian ini digunakan tiga proxy yang berbeda untuk akumulasi modal manusia. Proxy untuk kesehatan yakni  life expectancy at birth total years,  fertility rate total (kelahiran setiap wanita), health expenditure public (% dari GDP). Sedangkan proxy untuk pendidikan yakni  primary completion rate total (% dari kelompok usia), pupil teacher ratio primary dan public spending on education total (% dari GDP). Variabel yang digunakan dalam penelitian ini merujuk pada penelitian yang dilakukan oleh Aysen, et al (2014). Adapun variabel-variabel yang digunakan adalah sebagai berikut.
Tabel 1 Definisi operasional variabel yang digunakan dalam penelitian
Simbol
Jenis variabel
Variabel
Definisi
X1
Indepedendent Variabel
Life expectancy at birth (total years)
Menunjukkan jumlah tahun bayi yang baru lahir akan hidup jika pola kematian yang berlaku pada saat kelahirannya tetap sama  hingga sepanjang hidupnya.
X2
Indepedendent Variabel
Fertility rate total (births per woman)
Jumlah anak yang akan lahir dari seorang wanita jika dia hidup sampai akhir tahun subur sesuai dengan tingkat kesuburan usia-spesifik saat ini.
X3
Indepedendent Variabel
Health expenditure public (% of GDP)
Belanja kesehatan publik terdiri dari belanja berulang dan modal dari anggaran pemerintah (pusat dan daerah), pinjaman eksternal dan hibah (termasuk sumbangan dari lembaga internasional dan lembaga swadaya masyarakat), dan dana asuransi kesehatan sosial (atau wajib).
X4
Indepedendent Variabel
Primary completion rate total (% of relevant age group)
Tingkat penyelesaian primer diukur sebagai rasio asupan bruto kelas terakhir sekolah dasar. Hal ini dihitung dengan mengambil jumlah total siswa di kelas terakhir sekolah dasar, dikurangi jumlah repeater di kelas itu, dibagi dengan jumlah total anak usia kelulusan resmi.
X5
Indepedendent Variabel

Pupil teacher ratio primary
Rasio murid-guru primer adalah jumlah siswa yang terdaftar di sekolah dasar dibagi dengan jumlah guru sekolah dasar.
X6
Indepedendent Variabel
Public spending on education total (% of GDP)
Total pengeluaran publik (saat ini dan modal) pada pendidikan dinyatakan sebagai persentase dari Produk Domestik Bruto (PDB) pada tahun tertentu. Pengeluaran publik untuk pendidikan meliputi pengeluaran pemerintah pada lembaga pendidikan (baik negeri maupun swasta), administrasi pendidikan, dan transfer / subsidi untuk swasta (mahasiswa / rumah tangga dan badan swasta lainnya).
Y
Depedendent Variabel
Gross Domestic Product
Ukuran agregat dari jumlah nilai tambah bruto dari semua warga, unit institusional terlibat dalam produksi (ditambah pajak, dan minus subsidi, pada produk yang tidak termasuk dalam nilai output mereka).

Model Penelitian
            Untuk meneliti bagaimana kaitan antara pertumbuhan ekonomi dengan modal manusia di 6 Negara ASEAN, maka penelitian ini menggunakan kerangka kerja yang telah disusun oleh Aysen, et al (2014). Metode yang digunakan adalah metode panel data. Berdasarkan variabel-variabel yang telah dijelaskan, maka model yang akan digunakan yaitu :
LnYit = β0 + β1 LnX1it + β2 LnX2it + β3 X3it + Ɛit............................................(1)
LnYit = β0 + β1 X4it + β2 LnX5it + β3 X6it + Ɛit................................................(2)
Metode Penelitian
Metode analisis yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif menggunakan pendekatan kuantitatif. Pendekatan kuantitatif dilakukan dengan pencarian data-data kuantitatif di world development indicators. Data yang telah diperoleh diolah menggunakan perangkat lunak Microsoft Excel 2013 dan Eviews 6.
HASIL DAN PEMBAHASAN

Uji Hausman
Uji Hausman digunakan untuk membandingkan apakah Fixed Effect Model atau Random Effect Model yang lebih sesuai.
H0       : Random Effect
H1       : Fix Effect
Statistik uji haussman mengikuti distribusi chi square dengan degree of freedom sebanyak jumlah variabel bebas dari model.  Uji kesesuaian pada panel data dengan fixed effects atau random effects menggunakan uji haussman yang  menunjukan nilai prob < 0.05 baik untuk pendidikan maupun kesehatan.
Pada Lampiran 1 yang menunjukan Hasil Uji Hausman terhadap variabel pendidikan maupun variabel kesehatan pada Lampiran 2 dengan economic growth memiliki heterogenitas individu secara fixed. Dengan demikian fixed effects model lebih sesuai digunakan. Menurut Hsaio (2003) apabila tidak dapat ditentukan secara teoritis dampak gangguannya, maka random effect model dipilih jika diambil dari sampel individu yang merupakan sampel acak dari populasi yang lebih besar. Namun jika meliputi seluruh individu dalam populasi atau hanya beberapa individu dengan penekanan pada individu-individu tersebut maka lebih baik digunakan fixed effect model. Dalam penelitian ini karena jumlah cross-section mengambil individu yang mencerminkan sebagian populasi  dengan penekanan pada individu-individu tersebut  (6 Negara ASEAN), maka fix effect model lebih baik secara teori. Pengaruh Variabel Kesehatan dan Pendidikan Terhadap Perekonomian
Setelah dilakukan Uji Hausman dan diperoleh Fixed Effect Model sebagai model yang paling sesuai, maka selanjutnya dilakukan estimasi dari persamaan tersebut. Estimasi persamaan modal manusia yang dilihat dari sisi kesehatan dan pendidikan terhadap pertumbuhan ekonomi pada Tabel 2 dan Tabel 3 .
 Tabel 2 Hasil Estimasi Pengaruh Modal Manusia terhadap GDP per kapita di 6 Negara                                      ASEAN (Untuk Kesehatan)
Variabel bebas
Variabel tidak bebas : GDP per kapita
Koefisien
Nilai Statistik
Probabilitas
LNX1
2.532932*
2.466487
0.0203
LNX2
-0.953324*
-4.007976
0.0004
X3
-0.013936
-0.316174
0.7543
C
-3.032823
-0.709074
0.4844
Keterangan: *signifikan pada  ⍺= 5%
Berdasarkan pada Tabel 2 dapat dilihat bahwa variabel life expectancy at birth (X1),  fertility rate total (X2) signifikan pada taraf nyata 5%. Life expectancy at birth (X1) diambil sebagai salah satu aspek pada modal manusia yang secara positif mempengaruhi pendapatan per kapita. Namun di sisi lain, fertility rate total (X2) dianggap negatif mempengaruhi pendapatan per kapita. Selain itu, health expenditure public (X3) tidak memiliki signifikansi pada 6 negara di kawasan ASEAN.  Bila dibandingkan dengan ketiga variabel tersebut maka modal manusia yang dilihat dari pendekatan tingkat kesehatan maka yang paling mempengaruhi terhadap GDP per kapita adalah life expectancy at birth (X1) dengan elastisitas sebesar 2.532, artinya jika  terjadi kenaikan angka harapan hidup sebesar 1% maka GDP perkapita akan meningkat sebesar 2.532 %.
           Dari 6 negara di kawasan ASEAN yang diteliti dapat diketahui bahwa selama tahun pengamatan bahwa negara Malaysia mempunyai intersep yang paling tinggi meskipun hasilnya masih minus, artinya bahwa GDP perkapita Negara Malaysia yang tidak dipengaruhi oleh human capital (Kesehatan) paling tinggi dibandingkan dengan Negara lainnya. Hal ini dapat dilihat pada Lampiran 4. Terlihat bahwa untuk variabel kesehatan Malaysia menempati posisi pertama dengan efek individu sebesar 1.425810. Disusul oleh Filipina dan posisi terakhir ditempati oleh Kamboja. Sedangkan Indonesia berada pada posisi ketiga untuk efek individu variabel kesehatan.
Tabel 3 Hasil Estimasi Pengaruh Modal Manusia terhadap GDP per kapita di 6 Negara ASEAN                        (Untuk Pendidikan)
Variabel bebas
Variabel tidak bebas : GDP per kapita
Koefisien
Nilai Statistik
Probabilitas
X4
0.013629*
-5.127462
0.0001
LNX5
-1.387684*
13.41613
0.0000
X6
0.039277
1.356938
0.1936
C
9.992989
10.79410
0.0000
Keterangan: *signifikan pada  ⍺= 5%
Tabel 3 menyajikan regresi yang sama seperti yang ditampilkan pada Tabel 2, tetapi kali ini untuk modal manusia dilihat dari sisi pendidikan yang diwakili dengan tiga variabel yakni, primary completion rate total (X4), pupil teacher ratio primary (X5), public spending on education total (X6). Ukuran modal manusia untuk pendidikan signifikan positif  untuk variabel primary completion rate total (X4),  dan signifikan negatif untuk variabel pupil teacher ratio primary (X5). Namun hal tersebut tidak berlaku untuk variabel X8. Hal itu dikarenakan variabel tersebut secara statistik tidak signifikan.
Hasil yang ditampilkan pada Tabel 3 dapat diketahui bahwa jika primary completion rate total (X4) diambil sebagai salah satu unsur modal manusia untuk pendidikan maka secara positif mempengaruhi pendapatan per kapita pada 6 Negara ASEAN selama periode pengamatan. Namun di sisi lain, jika pupil teacher ratio primary (X5) digunakan sebagai modal manusia maka akan berpengaruh negatif terhadap pendapatan per kapita.
Dari 6 negara ASEAN yang diteliti selama periode pengamatan ternyata bisa dibuktikan bahwa negara Malaysia mempunyai intersep tertinggi untuk hubungan antara GDP per kapita dengan human capital yang dilihat dari sisi pendidikan. Pada lampiran 6 terlihat bahwa Malaysia memiliki efek individu terhadap variabel pendidikan yang terbesar. Disusul oleh Kamboja dan Filipina pada urutan selanjutnya. Sedangkan Indonesia berada pada posisi keempat dengan efek individu sebesar -0.331507. Hal ini berarti bahwa GDP per kapita negara Malaysia yang tidak dipengaruhi oleh tiga variabel yang mewakili pendidikan paling tinggi dibandingkan dengan negara lainnya. 
Berdasarkan kedua variabel tersebut terlihat bahwa Malaysia menjadi negara yang memiliki efek individu tertinggi dibanding negara-negara lainnya. Salah satu hal yang dapat menjelaskan dampak tersebut adalah penolakan Malaysia untuk menerima pinjaman dari IMF. Dengan kata lain Malaysia berusaha untuk bangkit dari krisis yang terjadi dalam negara. Selain itu Malaysia mematok nilai tukar mata uang Ringgit Malaysia dari harga pasaran sekitar 4,11 Ringgit Malaysia (RM) per dolar AS menjadi kurs tetap sebesar 3,8 RM per dolar AS pada akhir 1997. Dan juga didukung oleh dana cadangan yang dimiliki Malaysia pada waktu itu yang berkisar 40 miliyar dolar AS. 
Sebagai perbandingan, negara-negara lain cenderung untuk menerima bantuan dari IMF sehingga beban negara menjadi lebih banyak, salah satu contohnya adalah Indonesia. Walaupun banyak faktor lain yang mengakibatkan kesulitan negara-negara lain untuk bangkit pasca krisis moneter di tahun 1997 hingga 1998. Tercatat hingga tahun 2001, perekonomian Indonesia masih lemah diakibatkan kesulitan untuk bangkit pasca krisis moneter. Walaupun banyak faktor yang mengakibatkan hal tersebut namun tetap hal tersebut menjadi catatan dengan harapan hal tersebut tidak terulang kembali. Sehingga pembangunan di Indonesia dapat berjalan sesuai rencana tanpa ada hambatan yang berarti.
  
KESIMPULAN DAN SARAN

5.1 Kesimpulan
Human capital yang terdiri dari variabel kesehatan dan pendidikan memiliki signifikansi yang berbeda. Untuk variabel kesehatan, berdasarkan  ketiga proxy maka yang paling mempengaruhi terhadap GDP per kapita melalui variabel kesehatan di keenam negara ASEAN tahun 1999-2004 adalah life expectancy at birth (X1) dengan elastisitas sebesar 2.532. Sedangkan untuk variabel pendidikan proxy primary completion rate total (X4) secara positif mempengaruhi pendapatan per kapita di keenam Negara ASEAN selama periode pengamatan. Namun di sisi lain, jika pupil teacher ratio primary (X5) berpengaruh negatif terhadap pendapatan per kapita.
Negara yang memiliki efek individu terbesar untuk kedua variabel adalah adalah Malaysia. Sedangkan negara-negara lain berada pada posisi yang berbeda-beda untuk setiap variabel. Salah satu faktor yang mengakibatkan ini adalah kemandirian Negara Malaysia untuk menyelesaikan krisis yang terjadi dalam negara.

5.2 Saran
Berdasarkan penelitian ini, terdapat beberapa saran yang dapat menjadi pertimbangan selanjutnya.
1.      Perlu diadakan penelitian lanjut dengan data yang lebih baru untuk melihat kesiapan negara ASEAN dari human capital yang dipersiapkan dalam menghadapi Masyarakat Ekonomi ASEAN.
2.      Menentukan variabel pendidikan dengan proxy pendidikan menengah. Sehingga lebih relevan terhadap kualitas sesungguhnya dari human capital.
3.      Meningkatkan kemandirian di Indonesia dalam menghadapi permasalahan perekonomian. Sehingga peran asing menjadi berkurang sehingga terbebas dari intervensi asing baik langsung maupun tidak.

DAFTAR PUSTAKA

Altun, A. A., & Hakan, Acaroglu. 2014. Human Capital and Economic Growth: A Panel Data Analysis with Health and Education for MENA Region. Advances in Management & Applied Economics. Volume (4). 59-71. No. 4.
Atif, A., Imdadullah, M., Ullah, M. A., Aslam, Z. M. 2011. Determinants of Economic Growth in Asian Countries: A Panel Data Perspective. Pakistan Journal of Social Sciences (PJSS) Volume (31). 145-157. No. 1.
Hsiao, F. S. T., & Hsiao, M. C. W. 2006. FDI, Exports, and Growth in East and Southeast Asia --Evidence from Time-Series and Panel Data Causality Analyses. International Conference on Korea and the World Economy [Paper]. Korea: Korea University Seoul.
Salamah, L. 2010. Lingkaran Krisis Ekonomi Indonesia. JURNAL MASYARAKAT KEBUDAYAAN DAN POLITIK. Volume (14). 65-76. No. 2.

Senin, 25 Juli 2016

ANTARA DUNIA MAYA DAN NYATA
Doa + Usaha + Ikhtiar + Tawakal = DUIT (?)

Dikehidupan nyata uang adalah suatu barang yang menjadi “trend setter” yang tidak dibatasi oleh masalah ruang waktu. Segelintir orang bahkan menganggap bahwa uang merupakan segalanya karena mereka menganggap bahwa semuanya dapat tercapai dengan empat huruf huruf. Contoh riil nya adalah orang kaya yang menyogok suatu sekolah demi mendapatkan kursi untuk anaknya untuk sekolah di sekolahan tersebut, seseorang rela melakukan sesuatu yang tidak logis dan menghalalkan segala cara untuk mendapatkan uang. Namun saya sangat tidak setuju dengan anggapan seperti itu karena anggapan tersebut hanya membuat uang itu adalah sebuah masalah, andai hidup ini tidak ada uang mungkin tindakan kriminalitas dan sejenisnya tidak akan terjadi.
Dalam kesempatan ini saya akan menerangkan konsep Doa, usaha, ikhtiar, dan diakhiri tawakal yang pada akhirnya bisa membuahkan “DUIT”. Pertama adalah doa. Doa adalah sesuatu yang menjadi pembuka seseorang dalam menggapai rezeki, seseorang yang melakukan segala sesuatu kegiatan tanpa doa maka orang tersebut adalah orang yang paling sombong dan lupa akan kodratnya sebagai hamba Tuhan yang maha esa. Kedua adalah usaha. Mustahil orang akan bisa mendapatkan sesuatu yang ingin ia capai tanpa melakukan sesuatu  yang namanya usaha. Usaha menjadi salah satu faktor layak atau tidaknya seseorang dalam menggapai sesuatu yang ia inginkan.konsep yang ketiga adalah ikhtiar. Mungkin anda bertanya-tanya apa bedanya usaha dan ikhtiar. Ikhtiar adalah sesuatu yang dilakukan dengan sungguh-sungguh dan tidak kenal lelah. Orang yang telah melakukan usaha belum tentu ia dikatakan telah melakukan ikhtiar, akan tetapi orang yang telah melakukan ikhtiar sudah pasti ia telah melakukan usaha. Konsep penentu yang terakhir adalah tawakal. Tawakal menjadi faktor yang menghubungkan dan menyempurnakan  ketiga faktor tersebut, karena tawakal muncul ketika seseorang sudah melakukan ketiga konsep tersebut. Mustahil tawakal akan muncul apabila salah satu dari ketiga faktor tersebut tidak terpenuhi.
Contoh riil dari pengaplikasian konsep tersebut adalah diri saya sendiri. Jujur saya tidak pernah membayangkan bisa kuliah di PTN sekelas IPB dengan status mendapatkan beasiswa dari salah satu pemberi beasiswa yang sangat super dan ketat dalam penyeleksiannya. Ketika saya daftar PTN dan beasiswa Tanoto Foundation saya menggunakan keempat konsep tersebut untuk bisa menjadi salah satu bagian dari IPB dan Tanoto Scholars. Mungkin menurut anda ini adalah hal yang fiktif, tapi inilah kenyataannya. Dengan berdoa secara sungguh-sungguh yang didampingi dengan usaha dan ikhtiar dan disempurnakan dengan tawakal saya bisa meraih impian yang saya tidak impikan yaitu mendapatkan beasiswa dari Tanoto Foundation. Konsep tersebut sangat gampang untuk diucapkan dan sangat berat untuk dilaksanakan. Oleh karena itu selalu percayalah dan yakinilah bahwa tuhan akan selalu memberikan banyak kemudahan dibalik satu permasalahan. Semoga saya dan kalian selalu berada dalam 4 rantai tersebut.

“Ketika Tuhan menjawab “TIDAK” atas doa, usaha, ikhtiar mu, berterimakasihlah karena itu cara tuhan untuk melindungimu dari sesuatu yang tak pantas kamu dapatkan”

Peningkatan eksistensi perbankan syariah

Upaya Peningkatan Market Share dan Inovasi Perbankan Syariah di Indonesia: Pendekatatan Analisis Fishbone dan SWOT

Irman Ramdani, SE
Departemen Ilmu Ekonomi IPB, Bogor


PENDAHULUAN
Perbankan syariah di Indonesia merupakan bagian integral dari pengembangan sebuah sistem perbankan nasional (Andriansyah 2012). Hal tersebut dikarenakan perbankan syariah menjadi alternatif pilihan bagi nasabah untuk berinvestasi ataupun mendapatkan pinjaman yang non riba, adil, halal, dan sesuai dengan hukum Islam. Dalam perkembangannya, perbankan syariah di Indonesia dilakukan dalam kerangka dual-banking system dengan pembiayaan sebagai kegiatan operasional utama.
Berdasarkan data Bank Indonesia, dari segi jaringan, pada April 2016 tercatat ada 12 Bank Umum syariah (BUS), 22 Unit Usaha Syariah (UUS), dan 165 Bank Pembiayaan Rakyat Syariah yang sudah terdaftar di Bank Indonesia. Secara umum, kinerja perbankan syariah dapat dilihat dari tiga indikator, yaitu jumlah aset, dana pihak ketiga (DPK) yang terkumpul, serta banyaknya pembiayaan yang disalurkan oleh perbankan. Pada periode awal tahun 2011, pertumbuhan aset perbankan syariah bahkan menunjukkan tren menurun yang cukup drastis. Rata-rata pertumbuhan aset dari tahun 2010 hingga 2015 adalah sebesar 27.9 persen (SPS 2015). Total aset pada Juni 2015 adalah sebesar Rp 272389 milyar rupiah, naik sekitar 0.016 persen dari posisi Desember 2014.
Sumber: SPS (2015)
Gambar 1   Perkembangan total Aset, DPK, dan pembiayaan Bank Umum Syariah (BUS) serta Unit UsahaSyariah (UUS) tahun 2010-2015
Sementara itu dari sisi penghimpunan pembiayaan dan DPK, hingga tahun 2014 kedua indikator tersebut juga menunjukkan pertumbuhan yang semakin melambat. Pada tahun 2011, pertumbuhan pembiayaan berada pada posisi pertumbuhan tertinggi dengan nilai pertumbuhan 33.48 persen. Rata-rata pertumbuhan pembiayaan dari tahun 2010 sampai 2014 adalah 24.46 persen. Sedangkan pada rentang tahun tersebut DPK menunjukkan tren pertumbuhan yang menurun dengan rata-rata pertumbuhan sebesar 24.50 persen. Bahkan pada akhir tahun 2014, pertumbuhan DPK mencapai titik pertumbuhan terendah, yaitu sebesar 15.75 persen (SPS 2015).
Secara historis pertumbuhan perbankan syariah cukup pesat, namun masih jauh jika dibandingkan dengan perbankan konvensional. Hal ini disebabkan karena masyarakat yang kurang paham akan produk syariah dan kurangnya sosialisasi pada penerapan prinsip bagi hasil. Hal ini dibuktikan oleh jumlah DPK perbankan konvensional yang hampir 20 kali dari jumlah DPK perbankan syariah (Haris 2015). Dengan target pasar 5 persen, jumlah jaringan kantor yang mencapai 2564, dan jumlah rekening mencapai 12 juta diharapkan mampu membantu perbankan syariah untuk berkembang sehingga mampu bersaing dengan perbankan konvensional dalam industri perbankan nasional (SPI 2015).
Pertumbuhan dari ketiga indikator kinerja tersebut menunjukan tren positif setiap tahunnya, namun tidak diikuti dengan peningkatan pangsa pasar. Pada tahun 2014, pangsa pasar perbankan syariah hanya sebesar 3.7 persen. Hal tersebut diantaranya terjadi karena porsi pembiayaan perbankan syariah sampai Juni 2014 hanya sebesar 2.14 persen (SPI 2014). Selain itu, proporsi penyaluran pembiayaan yang dilakukan masih didominasi oleh pembiayaan konsumtif dengan akad murabahah. Misal, tahun 2014 proporsi pembiayaan murabahah sebesar 76.6 persen dengan 43.2 persen disumbang oleh pembiayaan konsumtif. Sehingga menyebabkan kinerja perbankan syariah belum terlalu dirasakan bagi masyarakat umum, khususnya mengenai tujuan perbankan syariah itu sendiri, yakni untuk mengembangkan sektor ril dengan mendorong pemerataan pendapatan.
Sumber: Statistik perbankan syariah (2016)
                            Gambar 2 Pangsa pasar perbankan syariah tahun 2009-2015
Penelitian mengenai faktor-faktor yang memengaruhi kinerja perbankan syariah telah dilakukan oleh Abedifar et al. (2016). Hasil penelitian itu menegaskan bahwa market share perbankan syariah mempunyai hubungan signifikan positif dengan pembangunan intermediasi keuangan dan kesejahteraan ekonomi suatu negara, khususnya negara muslim yang berpendapatan rendah. Oleh karena itu, sebagai negara dengan mayoritas penduduk muslim terbesar secara geografis, perlu adanya suatu penelitian mengenai cara untuk meningkatkan eksistensi perbankan syariah khususnya market share perbankan syariah di Indonesia agar terus mengalami peningkatan. Berdasarkan uraian di atas, inti permasalahan yang diangkat dalam penelitian ini adalah:
1.      Faktor apa saja yang memengaruhi market share perbankan syariah di Indonesia?
2.      Inovasi apa yang perlu dilakukan untuk meningkatkan eksistensi perbankan syariah?
Tujuan Penelitian
1.      Menganalisis faktor yang menjadi penyebab rendahnya market share perbankan syariah.
2.      Menemukan inovasi yang harus dilakukan untuk meningkatkan eksistensi perbankan syariah dengan pendekatan analisis SWOT.


PEMBAHASAN
Faktor yang memengaruhi eksistensi perbankan syariah
Pada penelitian ini penyebab permasalahan market share perbankan syariah menggunakan fishbone analysis dengan kriteria 4M, yaitu man, , machine, method, material.
a.      Man
Penelitian yang dilakukan oleh Abdalla et al. (2015) membuktikan bahwa faktor yang paling tinggi dalam meningkatkan kinerja perbankan syariah adalah kualitas sumber daya manusia, yakni sebesar 55 persen. Masih banyak SDM bank syariah yang belum memiliki pengetahuan dan pengalaman yang baik dalam menjalankan operasional bank syariah dan keterbatasan kuliatas SDM ini akan memengaruhi bukan hanya resiko operasional bank, namun juga resiko reputasi yang secara khas dimiliki oleh perbankan syariah. Strategi yang dapat dilakukan agar kualitas SDM bank syariah meningkat. Diantaranya yaitu dengan memberikan training hard skill tentang product knowledge secara berkesinambungan dan secara periodik melakukan pembahasan atas permasalahan yang muncul di lapangan, serta memberikan pembekalan keterampilan soft skill kepada mereka.
b.      Machine
Salah satu cara untuk melihat perkembangan perbankan yakni melalui perkembangan jaringan perbankan. Kristanto (2012) menyebutkan rendahnya pangsa pasar perbankan syariah disebabkan oleh infrastruktur yang kurang dari perbankan syariah dan keunggulan non teknis perbankan konvensional. Tabel 1 memperlihatkan bahwa baik perbankan syariah maupun perbankan konvensional terus mengalami pertumbuhan jaringan. Namun, lebih sedikitnya jumlah kantor perbankan pada perbankan syariah menjadikan perbankan syariah belum memiliki bargaining position yang bagus dalam dunia perbankan.
Tabel 1 perkembangan jaringan perbankan syariah dan konvensional
Tahun
Jumlah jaringan perbankan
Syariah
Konvensional
1401
14797
2012
1714
16625
2013
1920
18114
Sumber: Statistik perbankan Indonesia (2014)
Disisi lain, jumlah kantor jaringan bank umum syariah (BUS) sepanjang 6 bulan pertama tahun 2015 mengalami penurunan. Hal tersebut terlihat dari statistik perbankan syariah yang diterbitkan oleh OJK pada Juni 2015 yang mencatat bahwa jumlah kantor jaringan BUS sebanyak 2121 unit kantor yang mengalami penurunan sejak awal tahun 2015 yakni sebanyak 2145. Hal ini menyebabkan akses perbankan syariah menjadi sulit bagi para masyarakat yang ingin menjadi nasabah. Selain itu dari sisi teknologi, perbankan syariah masih berasal dari teknologi perbankan konvensional hal ini terbukti masih dominannya pembiayaan murabahah dibandingkan musyarakah dan mudharabah.


c.       Method
Menurut laporan Islamic finance outlook (2015) Pembiayaan investasi pada bank syariah hanya sebesar 19 persen dibandingkan perbankan nasional yang mampu mencapai 25 persen dan pertumbuhan investasi pada perbankan konvensional paling tinggi dibandingkan konsumsi dan modal kerja yakni sebesar 13.5 persen (OJK 2014). Hal ini diperparah oleh pembiayaan pada bank syariah yang selalu didominasi oleh pembiayaan murabahah dan porsi terbesar pembiayaan tersebut adalah untuk kegiatan konsumsi, yakni sebesar 41 persen. Sedangkan pembiayaan modal kerja pada bank syariah sebesar 40 persen dan angka tersebut lebih kecil dari perbankan secara nasional yang mencapai 47 persen. Menurut penelitian yang dilakukan Aryani (2016) hal itu disebabkan bank syariah belum terlalu berani dalam memberikan pembiayaan mudharabah dan musyarakah karena memiliki risiko yang lebih tinggi.
Sumber: Islamic finance outlook (2015)
Gambar 3 Porsi pembiayaan perbankan syariah tahun 2015
Apabila dilihat dari segi pembiayaan dana, bank konvensional lebih diarahkan untuk pembiayaan berskala besar sedangkan pembiayaan yang dilakukan oleh bank syariah masih menyalurkan pembiayaan dalam skala menengah ke bawah (Aryani 2016). Dalam prakteknya pelaku terbesar perbankan syariah (bank muamalat) dengan pertumbuhan total aset 21.19 persen dan market share 1.11 persen pada tahun 2013, cenderung menempatkan porsi investasi yang terlalu besar pada satu segmen. Misalkan bank muamalat menempatkan porsi investasi pada segmen pertambangan, sehingga apabila mengalami kerugian maka hal tersebut menyebabkan Non Performing Financing (NPF) bank syariah meningkat secara keseluruhan.
d.      Material
Sistem perbankan Indonesia menganut dual banking system, yakni bank konvensional dengan sistem bunga (interest rate system) dan bank syariah dengan bagi hasil (free interest rate system). Penerapan sistem perbankan ganda diharapakan dapat memberikan alternatif transaksi keuangan yang lebih lengkap untuk masyarakat. Penerapan dual banking system dapat meningkatkan pembiayaan bagi sektor riil secara bersama-sama antara bank syariah dan bank konvensional.
Sumber: Statistik perbankan Indonesia (2014)
Gambar 4 Penghimpunan dana syariah dan konvensional tahun 2010-2015
Perhimpunan dana pada bank syariah dan konvensional memiliki persamaan dan perbedaan. Persamaannya adalah kedua sistem perbankan tersebut mencari keuntungan dari pihak lain tanpa merugikan pihak tersebut. Komposisi DPK perbankan syariah maupun secara nasional masih di dominasi produk deposito yakni sebesar 62 persen dan 43 persen. Sedangkan produk low cost fund bank syariah 8 persen, jauh lebih kecil daripada perbankan secara nasional yakni 24 persen. Produk low cost fund lainnya, tabungan wadiah dan mudharabah memiliki persentase yang lebih kecil pula yakni 30 persen dibandingkan perbankan secara nasional yakni 33 persen (Islamic finance outlook 2015). Dapat dilihat pada Gambar 3 bahwa penghimpunan dana pada perbankan syariah masih sangat lebih rendah dibandingkan perbankan konvensional. Sehingga market share perbankan syariah dari tahun 2010 sampai 2014 rata-rata hanya sebesar 4 persen.
Inovasi perbankan syariah dengan pendekatan analisis SWOT
Identifikasi kekuatan
1.      Citra perusahaan yang baik
Pedoman perbankan syariah yang bermuara pada al-qur’an dan hadist memengaruhi pandangan masyarakat terhadap perbankan syariah. Selain itu banyak produk yang dikeluarkan oleh perbankan syariah  misalnya Tabungan BSM yang memiliki fasilitas dan manfaat untuk memenuhi kebutuhan dan keinginanan nasabahnya.
2.      Prinsip bagi hasil yang berdasarkan kepercayaan
Prinsip utama dari sebuah perbankan syariah adalah kepercayaan (trust) yang tinggi antara mudharib dan shahibul mal. Dalam perbankan syariah tingkat bagi hasil ditentukan berdasarkan kesepakatan kedua belah pihak, sehingga pihak perbankan maupun nasabah mempunyai kekuatan yang sama dalam keputusan perencanaan. Misalkan pada BSM bagi hasil sebesar 66:34, artinya 66 persen untuk bank dan 34 persen untuk nasabah.
3.      Kenyamanan dan kemudahan bertransaksi dan pelayanan produk
Fasilitas e-banking yang terdapat pada sejumlah perbankan syariah memberikan kemudahan dan kenyamanan dalam bertransaksi dimanapun dan kapanpun nasabah berada. Melalui fasilitas ini nasabah dengan mudah bisa melakukan transaksi diantaranya adalah pembayaran tagihan listrik dan telepon, isi ulang listrik dan pulsa, pindah buku dan kliring, info mutasi dan saldo, pembayaran premi asuransi, dan pembayaran infaq zakat.
Identifikasi kelemahan
1.      Masih kurangnya infrastruktur
Jumlah kantor layanan setara dengan kantor cabang, cabang pembantu maupun kantor kas di setiap wilayah tingkat kota atau kabupaten masih sedikit. Misalkan daerah untuk wilayah bogor timur yang melayani hanya ada satu kantor cabang pembantu dan fasilitas ATM (anjungan tunai mandiri) yang sangat terbatas bahkan masih sering offline karena adanya gangguan jaringan. Sehingga para nasabah perbankan syariah sangat sulit mencari ATM.
2.      Image perbankan syariah yang hanya diperuntukkan untuk orang Islam
Prinsip yang melekat pada perbankan syariah membuat image perusahaan dimata masyarakat sebagai perbankan yang khusus untuk umat beragama Islam. Hal tersebut mengakibatkan sekelompok orang non muslim masih ragu untuk menyimpan dana di perbankan syariah, karena mereka mempunyai anggapan bahwa produk perbankan syariah ini khusus untuk umat beragama Islam. Kurangnya kegiatan promosi yang dilakukan perbankan syariah dalam memasarkan produk kepada pihak-pihak diluar yang beragama Islam seperti promosi ke sekolah-sekolah yang siswanya hanya non-muslim.
3.      Kerjasama dengan channelling belum menggunakan layanan perbankan syariah secara umum
Kerjasama dengan cahannelling, misalnya antara perbankan syariah dengan kantor pos untuk memberikan layanan kepada nasabah yang tidak memiliki rekening, tapi bisa mengambil uang yang mereka kirim melalui perbankan syariah. Kerjasama tersebut masih terkendala dengan adanya faktor keterbatasan dana yang dimiliki kantor pos. Selain itu, nasabah yang tidak mempunyai rekening sebaliknya belum bisa mengirimkan uang melalui kantor pos kepada orang yang mereka tuju yang memiliki rekening bank syariah. Hal tersebut disebabkan karena layanan masih bersifat transaksional.
4.      Minimnya SDM yang kompeten dalam bidang perbankan syariah
Pertumbuhan industri perbankan syariah secara global terkendala oleh kelangkaan tenaga profesional. Kurangnya tenaga profesional di industri perbankan syariah tidak hanya berpengaruh pada pertumbuhan pertumbuhan perbankan syariah secara global tetapi sampai pada lingkup kualitas layanan yang diberikan kepada nasabah.  
Identifikasi Peluang
1.      Masyarakat mulai tertarik pada sistem perbankan syariah dan tingginya populasi muslim di Indonesia
Total nasabah perbankan syariah mencapai 15 juta jiwa. Sementara itu nasabah perbankan konvensional menyentuh sekitar 80 juta jiwa. Dibanding dengan perbankan konvensional, total nasah perbankan syariah baru mencapai 18.75 persen. namun sejauh ini pertumbuhan nasabah industri perbankan syariah rata-rata mencapai kisaran 15 sampai 20 persen. ketertarikan masyarakat pada perbankan syariah dikarenakan perhitungannya dengan cara bagi hasil dan landasan hukumnya berdasarkan Al-Qur’an dan Sunnah Rasul sebagaimana hukum Islam. Selain itu, ternyata tidak hanya umat Islam saja yang mulai beralih ke bank syariah, dunia pun telah beralih ke bank syariah, ini dikarenakan karena sistem ekonomi syariah yang berbeda dengan sistem konvensional. Sistem perjanjian ekonomi syariah adalah dengan perjanjian pasti dan transparansi, kerna jika tidak ada maka perjanjian itu akan batal. Sistem bagi hasil juga menyebabkan keuntungan yang diperoleh dibagi rata, sehingga tidak hanya satu pihak yang merasakan keuntungan. Begitupun sebaliknya ketika mengalami kerugian.
Disisi lain, jumlah populasi muslim dunia tercatat 1.4 miliar juta jiwa atau 22.43 persen dari seluruh penduduk bumi. Dari seluruh negara di dunia, Indonesia menempati urutan teratas dengan jumlah populasi terbanyak yakni lebih dari 200 juta jiwa, menyusul Pakistan dan India yang masing-masing sebesar 170 juta dan 160 juta. Tingginya pemeluk gama muslim ini menjadi peluang bagi perbankan syariah untuk meningkatkan segmen pasar yang lebih besar.
2.      Perluasan jaringan perbankan syariah
Perluasan jaringan pada perbankan syariah pada wikayah-wilayah yang dinilai potensial dan membutuhkan jasa perbankan syariah merupakan salah satu cara untuk terus mengembangkan perbankan syariah agar semakin mempermudah proses promosi untuk terus memperbanyak nasabah dan mempertahankan nasabah yang loyal.
Identifikasi Ancaman
1.      Efisiensi bank konvensional
Salah satu indikator efisiensi bank secara operasional adalah dengan melihat rasio biaya operasional terhadap pendapatan operasional (BOPO). Semakin rendah rasio BOPO, semakin efisien bank tersebut dalam operasionalnya. Dari kacamata BOPO memang bank syariah terlihat kurang efisien dibandingkan bank konvensional. Berdasarkan statistik bank Indonesia (2015) angka BOPO bank syariah berada pada level 96.98 persen.
2.   Moral hazard
Prinsip perbankan syariah yang berdasarkan pada kepercayaan dapat menjadi ancaman bagi kelangsungan eksistensi perbankan. Hal itu diakibatkan karena akan terjadinya prilaku morald hazard. Islamic finance outlook (2015) mencatat selama tahun 2007 hingga 2014 NPF perbankan syariah selalu lebih besar dari perbankan konvensional. Pada tahun 2014 NPF perbankan syariah sebesar 3.49 persen lebih tinggi dibandingkan NPL perbankan konvensional yang hanya sebesar 2.16 persen. meskipun demikian NPF perbankan syariah masih selalu berada dibawah 5 persen.
3.      Image masyarakat yang menganggap sama antara perbankan syariah dan konvensional
Tabel 2 Analisis SWOT
Keterangan
Strength
1.      Citra perusahaan yang baik
2.      Prinsip bagi hasil yang berdasarkan kepercayaan
3.      Kenyamanan dan kemudahan bertransaksi dan pelayanan produk


Weakness
1.      Masih kurangnya infrastruktur
2.      Image perbankan syariah yang hanya diperuntukkan untuk orang Islam
3.      Kerjasama dengan channelling yang belum menggunakan layanan perbankan syariah secara umum
4.      Minimnya SDM yang kompeten dalam bidang perbankan syariah
Opportunity
1.      Masyarakat mulai tertarik pada sistem perbankan syariah dan tingginya populasi muslim di Indonesia
2.      Perluasan jaringan perbankan syariah

Strategi SO
1.      Mempermudah dan mempersingkat alur dalam proses pembuatan rekening dan peminjaman dana.
2.      Dana haji dan umroh wajib masuk ke rekening bank syariah
3.     Menetapkan visi dan misi secara kafah
4.     Dual banking (penjualan produk perbankan syariah di perbankan konvensional)

Strategi WO
1.      Modernisasi sistem jaringan perbankan syariah (contoh: dari sistem kabel menjadi satelit)
2.      Membedakan sistem ekonomi dengan keyakinan individu
3.      Meningkatkan kerja sama dengan channelling (Pembuatan MoU)
4.      Meningkatkan kualitas SDM dalam ekonomi syariah
Threat
1.      Efisiensi bank konvensional
2.      Image masyarakat yang menganggap sama antara perbankan syariah dan konvensional
3.      Moral hazard

Strategi ST
1.      Melakukan pendekatan sistem konvensional untuk penyempurnaan sistem syariah (kartu kredit syariah)
2.      Melakukan sosialisasi tentang sistem perbankan syariah secara detail dan menyeluruh kepada seluruh lapisan masyarakat
Strategi WT
1.      Melakukan kerja sama dengan jaringan internet yang sudah ada (sistem pelayanan publik)
2.      Memadukan kekuatan hukum syariat islam dan pemerintah dalam akad perbankan syariah
3.      Menciptakan teknologi pendeksi moral hazard


SIMPULAN DAN SARAN
Kesimpulan
Pada penelitian ini penulis memberikan fakta empiris mengenai eksistensi perbankan syariah di Indonesia. Perkembangan perbankan syariah di Indonesia cukup pesat meskipun DPK bank syariah 20 kali lebih kecil dibanding bank konvensional (Haris 2015). Selain itu tingkat efisiensi perbankan syariah juga masih tidak efisien. Hal ini dibuktikan dengan nilai BOPO perbankan syariah yang rata-ratanya sebesar 96.98 persen (Statistik BI 2015). Namun hal ini wajar karena kehadiran perbankan syariah dalam dunia perbankan masih relatif baru.
Permasalahan market share perbankan syariah yang masih berada dibawa 5 persen menjadi tantangan bagi pelaku bisnis perbankan syariah. Penulis mengemukakan setidaknya ada 4 masalah yang harus dibenahi oleh pihak perbankan agar perbankan syariah dapat bersaing di dunia perbankan, diantaranya adalah man, machine, method, material. Dan berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Abdalla (2014) bahwa perbaikan utama yang harus dilakukan oleh perbankan syariah adalah peningkatan kualitas sumber daya insani.
Saran
Dalam kaitannya dengan penelitian mengenai upaya meningkatkan market share perbankan syariah maka rekomendasi yang dapat diberikan diantaranya dilakukannya beberapa inovasi untuk meningkatkan eksistensi perbankan syariah diantaranya:
1.      Meningkatkan kualitas SDM dalam ekonomi syariah (pelatihan soft skill, memperbanyak Jurusan sudi ekonomi syariah di tingkat universitas, dan pemberian beasiswa studi syariah).
2.      Memberikan kemudahan kepada para nasabah untuk proses pembukaan rekening dan memperbanyak jaringan kantor perbankan.
3.      Melakukan kerjasama dengan channelling (misalkan pembuatan MoU dengan kantor pos).
4.      Menciptakan produk sejenis dengan perbankan konvensional namun berbasis syariat islam (kartu kredit syariah).
5.      Produk dual banking.
6.      Menciptakan teknologi yang mampu mendeteksi prilaku-prilaku moral hazard.
7.      Peningkatan market share perbankan syariah juga perlu dibantu oleh dukungan pemerintah misal menempatkan dana anggaran pemerintah di perbankan syariah dan dana tabungan haji dan umroh wajib melalui rekening syariah.
DAFTAR PUSTAKA
Abdalla MAD, Aziz MR, Johari F. 2016. Testing the Model of Success Experience in Converting Into Islamic Banks in Libya Structural Equation Modeling. Journal of Islamic Banking and Finance. 3(2): 31-46.doi: 10.15640/jibf.v3n2a4.
Abedifar P, Hasan I,Tarazi A. 2016. Finance-growth nexus and dual-banking systems: Relative importance of Islamic banks. Journal of Economic Behavior & Organization.doi: http://dx.doi.org/10.1016/j.jebo.2016.03.005
Andriansyah Y. 2009. kinerja keuangan perbankan syariah di Indonesia dan kontribusinya bagi pembangunan nasional. Jurnal ekonomi Islam. 3(2): 181-196.
Aryani Y. 2016. Pengaruh faktor internal perbankan dan makroekonomi terhadap pembiayaan bermasalah (non performing financing) berdasarkan jenis penggunaan pada perbankan syariah Indonesia [Tesis]. Bogor (ID): Institut pertanian Bogor.
[BI] Bank Indonesia. Statistik Perbankan Indonesia Desember 2015. . [internet]. [diunduh 2016 Juli 23]. Tersedia pada: http://www.bi.go.id.
Haris M. 2015. Analisis faktor-faktor yang memengaruhi preferensi nasabah terhadap bank syariah di DKI Jakarta [Skripsi]. Bogor (ID): Institut pertanian Bogor.
Karim. 2014. Islamic Finance Outlook 2015. [internet]. [diunduh 2016 Juli 22]. http://karimconsulting.com/wpcontent/uploads/2014/12/ (3 Oktober 2015)
[OJK] Otoritas Jasa Keuangan. 2015. Statistik Perbankan Syariah Desember 2015. [internet]. [diunduh 2016 Juli 23]. Tersedia pada: http://www.ojk.go.id.
[OJK] Otoritas Jasa Keuangan. 2016. Statistik Perbankan Syariah April 2016. [internet]. [diunduh 2016 Juli 23]. Tersedia pada: http://www.ojk.go.id

Oktavianti I. 2012. Analisis strategi pemasaran produk tabungan BSM PT Bank Syariah Mandiri, KCP Lebak-Banten [Skripsi]. Bogor (ID): Institut pertanian Bogor.